LOmba Guru 2009
Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran
Tingkat Nasional Tahun 2009
Departemen Pendidikan Nasional berusaha secara kontinyu meningkatkan kemampuan
profesional guru dalam pembelajaran. Salah satu kegiatannya adalah
menyelenggarakan “Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional”.
Keberhasilan guru dalam pembelajaran tercermin dari hasil penelitian,
penelitian tindakan kelas, kajian, atau evaluasi dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian proses dan hasil pembelajaran.
A. TEMA
Tema lomba adalah “Melalui Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Kita
Tingkatkan Profesionalitas Guru sebagai Agen Pembelajaran yang Kreatif dan
Inovatif”.
B. TUJUAN
1. Memotivasi guru untuk lebih berkreasi dan berinovasi dalam merencanakan,
melaksanakan, serta menilai proses dan hasil pembelajaran.
2. Mendorong guru untuk selalu meningkatkan kemampuan meneliti, mengkaji,
mengevaluasi, mengembangkan kreativitas, dan inovasi untuk menghasilkan
pembelajaran yang bermutu.
3. Menanamkan budaya, minat, bakat dan kebiasaan untuk pengembangan hasil
kegiatan pengembangan profesi baik lisan maupun tulisan secara baik dan benar.
4. Menyebarluaskan berbagai pengalaman guru yang berhasil meningkatkan mutu
pembelajaran, sehingga dapat dimanfaatkan dan dijadikan referensi bagi guru
lainnya.
C. LINGKUP LOMBA
Sesuai dengan proses seleksi di atas, karya lomba peserta harus mengacu kepada
hal-hal sebagai berikut:
1. Materi
Strategi pembelajaran untuk beberapa mata pelajaran pada satuan pendidikan:
1. SD untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, dan IPS. a
2. SMP untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika,
dan IPS.
3. SMA untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia,
Biologi, Matematika, Geografi, Sejarah, Ekonomi/Akuntansi, dan
Sosiologi/Antropolo gi.
2. Isi
1. Kegiatan penelitian, penelitian tindakan kelas, kajian, atau evaluasi yang
dilakukan oleh guru dan terbukti berhasil meningkatkan proses dan/atau hasil
pembelajaran.
2. Upaya nyata guru dan terbukti berhasil dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses
dan hasil pembelajaran.
D. ASPEK YANG DINILAI
a. Keaslian atau orisinilitas naskah lomba yang dibuat oleh guru yang
bersangkutan, bukan jiplakan karya orang lain.
b. Bersifat inovatif, spesifik dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran,
latar belakang siswa serta situasi/kondisi tempat guru bertugas.
c. Naskah ditulis sesuai dengan kerangka penulisan hasil laporan penelitian,
kajian, atau evaluasi.
d. Hasil Pembelajaran atau kebermanfaatannya dalam meningkatkan mutu pendidikan.
E. PERSYARATAN PENULISAN NASKAH LOMBA
1. Lomba bersifat perseorangan.
2. Naskah lomba berupa hasil penelitian, penelitian tindakan kelas, kajian,
atau evaluasi yang dilakukan dan disusun secara ilmiah.
3. Peserta lomba hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah lomba yang sesuai
dengan bidang tugas yang menjadi tanggungjawabnya (bila mengirimkan lebih dari
satu naskah lomba dinyatakan gugur).
4. Surat pernyataan penulis, bahwa naskah lomba tersebut asli hasil karya
sendiri, bukan jiplakan, dan belum pernah dinilai pada lomba sejenis, baik di
dalam maupun di luar Departemen Pendidikan Nasional yang diketahui oleh kepala
sekolah.
5. Jumlah halaman sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) halaman kertas
berukuran A4, tidak termasuk bagian awal dan lampiran-lampiran. 2
6. Diketik 2 (dua) spasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa
Inggris yang baik dan benar.
7. Naskah lomba dijilid dan diberi sampul dengan ketentuan:
a. Warna merah untuk guru SD;
b. Warna biru untuk guru SMP;
c. Warna abu-abu muda untuk guru SMA;
F. KERANGKA ISI
1. Bagian awal
1) Halaman judul
a) Judul singkat, jelas, relevan dengan isi tulisan, dan diketik dengan huruf
kapital.
b) Nama penulis.
c) Kedudukan guru yang menyatakan keberadaan guru pada satuan pendidikan
SD/SMP/SMA dan mata pelajaran yang menjadi bidang tugasnya.
d) Tanggal penulisan.
2) Halaman pengesahan/persetuj uan kepala sekolah
Lembaran tersebut menyatakan pengesahan atau persetujuan kepala sekolah dengan
bukti tanda tangan, nama, NIP/NIGB/NIY (kalau ada) dan stempel sekolah yang
bersangkutan.
3) Kata Pengantar
4) Daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran bila ada
5) Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris antara 200-300
kata
2. Bagian inti pembahasan
1) Pendahuluan
Pendahuluan berisi atau mengungkapkan antara lain hal-hal sebagai berikut :
a) Latar belakang
o Menggambarkan bahwa topik atau fokus permasalahan menarik dan relevan dengan
upaya peningkatan mutu pembelajaran
o Menunjukkan bahwa topik atau fokus permasalahan tersebut bersifat spesifik,
asli, dan belum pernah disajikan secara tertulis sebagai karya lomba
keberhasilan pembelajaran. 3
b) Rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, kajian, atau evaluasi yang
menggambarkan ruang lingkup atau pembatasan kegiatan pembelajaran yang
dilakukan sesuai dengan topik atau fokus permasalahan.
c) Tujuan dan manfaat penelitian, kajian, atau evaluasi yang dilakukan.
Rumuskan secara rinci tujuan dan manfaat kegiatan penelitian, kajian, atau
evaluasi yang dilakukan.
d) Definisi konsep, definisi operasional, dan/atau kajian teoritis yang relevan.
2) Metodologi penelitian atau prosedur pembelajaran.
a) Metode penelitian atau prosedur pembelajaran. Jelaskan secara rinci prosedur
penelitian, penelitian tindakan kelas, kajian, atau evaluasi
pembelajaran/ bimbingan yang dilakukan.
b) Subjek penelitian, kajian, atau evaluasi. Jelaskan secara rinci pada kelas
berapa kegiatan pembelajaran/ bimbingan dilakukan, berapa banyak dan bagaimana
karakteristik siswanya.
c) Teknik pengumpulan data. Jelaskan teknik pengumpulan data, seperti dengan
tes, observasi, data sekunder, dan sebagainya.
d) Validasi instrumen penelitian, kajian, atau evaluasi. Jelaskan bagaimana
instrumen itu divalidasi, seperti uji validitas, validasi sejawat, atau
menggunakan instrumen yang terstandar.
e) Teknik analisis data. Jelaskan teknik analisis data, baik kuantitatif maupun
kualitatif.
3) Laporan hasil penelitian atau kegiatan pembelajaran
a) Hasil penelitian atau kegiatan pembelajaran.
b) Analisis hasil penelitian atau kegiatan pembelajaran.
4) Kesimpulan dan saran-saran
a) Kesimpulan utama yang dapat diambil dari kegiatan pembelajaran.
b) Saran-saran yang ditujukan baik kepada teman sejawat, pengelola pendidikan
atau berbagai pihak lain yang relevan.
4 3. Bagian Akhir
1) Daftar pustaka
2) Lampiran data-data yang diperlukan untuk menunjang kebenaran laporan
kegiatan, misalnya: data hasil belajar, instrumen pengukuran yang digunakan
program pembelajaran dan lain-lain.
3) Setiap naskah lomba supaya dilampiri biodata peserta yang disahkan oleh
kepala sekolah (contoh terlampir).
G. PERSYARATAN PESERTA
1. Peserta lomba adalah,
a. Guru Sekolah Dasar (SD) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA,
Matematika, dan IPS.
b. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika, dan
IPS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP).
c. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia,
Biologi, Matematika, Geografi, Sejarah, Ekonomi/Akuntansi dan
Sosiologi/Antropolo gi pada Sekolah Menengah Atas (SMA).
2. Masih aktif mengajar pada sekolah negeri atau sekolah swasta di bawah
pembinaan Departemen Pendidikan Nasional, baik sebagai guru PNS maupun guru
bukan PNS.
3. Mempunyai masa kerja sebagai guru sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun
dibuktikan dengan SK pengangkatan/ penugasan pertama sebagai guru.
4. Bagi yang pernah 2 (dua) kali menjadi pemenang Lomba Keberhasilan Guru dalam
Pembelajaran Tingkat Nasional baik Pemenang I, Pemenang II, maupun Pemenang III
dapat mengikuti kembali lomba ini setelah 5 (lima) tahun dihitung dari
kemenangannya yang terakhir.
H. WAKTU PELAKSANAAN
1. Penerimaan naskah lomba dimulai sejak tanggal 1 April 2009 dan paling lambat
tanggal 31 Agustus 2009 (cap pos).
2. Naskah lomba asli sebanyak 1 (satu) eksemplar dikirim kepada:
“Panitia Lomba Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran Tingkat Nasional”
Direktorat Profesi Pendidik
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Departemen Pendidikan Nasional
Gedung D Lantai 14 Jl. Jenderal Sudirman Pintu I Senayan, Jakarta Pusat
Telp/Fax. (021) 57974123
I. PENGHARGAAN BAGI PEMENANG
Bagi pemenang lomba disediakan hadiah berupa uang dengan total nilai sebesar
Rp. 605.000.000, – (Enam ratus lima juta rupiah) dan piagam dari Menteri
Pendidikan Nasional.
J. KETENTUAN LAIN
1. Pada pojok kiri atas sampul pengiriman ditulis “GURU SEBAGAI PEMERSATU
BANGSA”.
2. Finalis Lomba akan dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti seleksi penentuan
pemenang lomba tingkat nasional pada bulan November 2009. Kegiatan ini
merupakan salah satu kegiatan dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional tahun
2009.
3. Naskah yang masuk menjadi milik Panitia dan hak penerbitan naskah berada
pada Direktorat Profesi Pendidik, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional.
LOmba Guru 2009
Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran
Tingkat Nasional Tahun 2009
Departemen Pendidikan Nasional berusaha secara kontinyu meningkatkan kemampuan
profesional guru dalam pembelajaran. Salah satu kegiatannya adalah
menyelenggarakan “Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional”.
Keberhasilan guru dalam pembelajaran tercermin dari hasil penelitian,
penelitian tindakan kelas, kajian, atau evaluasi dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian proses dan hasil pembelajaran.
A. TEMA
Tema lomba adalah “Melalui Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Kita
Tingkatkan Profesionalitas Guru sebagai Agen Pembelajaran yang Kreatif dan
Inovatif”.
B. TUJUAN
1. Memotivasi guru untuk lebih berkreasi dan berinovasi dalam merencanakan,
melaksanakan, serta menilai proses dan hasil pembelajaran.
2. Mendorong guru untuk selalu meningkatkan kemampuan meneliti, mengkaji,
mengevaluasi, mengembangkan kreativitas, dan inovasi untuk menghasilkan
pembelajaran yang bermutu.
3. Menanamkan budaya, minat, bakat dan kebiasaan untuk pengembangan hasil
kegiatan pengembangan profesi baik lisan maupun tulisan secara baik dan benar.
4. Menyebarluaskan berbagai pengalaman guru yang berhasil meningkatkan mutu
pembelajaran, sehingga dapat dimanfaatkan dan dijadikan referensi bagi guru
lainnya.
C. LINGKUP LOMBA
Sesuai dengan proses seleksi di atas, karya lomba peserta harus mengacu kepada
hal-hal sebagai berikut:
1. Materi
Strategi pembelajaran untuk beberapa mata pelajaran pada satuan pendidikan:
1. SD untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, dan IPS. a
2. SMP untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika,
dan IPS.
3. SMA untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia,
Biologi, Matematika, Geografi, Sejarah, Ekonomi/Akuntansi, dan
Sosiologi/Antropolo gi.
2. Isi
1. Kegiatan penelitian, penelitian tindakan kelas, kajian, atau evaluasi yang
dilakukan oleh guru dan terbukti berhasil meningkatkan proses dan/atau hasil
pembelajaran.
2. Upaya nyata guru dan terbukti berhasil dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses
dan hasil pembelajaran.
D. ASPEK YANG DINILAI
a. Keaslian atau orisinilitas naskah lomba yang dibuat oleh guru yang
bersangkutan, bukan jiplakan karya orang lain.
b. Bersifat inovatif, spesifik dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran,
latar belakang siswa serta situasi/kondisi tempat guru bertugas.
c. Naskah ditulis sesuai dengan kerangka penulisan hasil laporan penelitian,
kajian, atau evaluasi.
d. Hasil Pembelajaran atau kebermanfaatannya dalam meningkatkan mutu pendidikan.
E. PERSYARATAN PENULISAN NASKAH LOMBA
1. Lomba bersifat perseorangan.
2. Naskah lomba berupa hasil penelitian, penelitian tindakan kelas, kajian,
atau evaluasi yang dilakukan dan disusun secara ilmiah.
3. Peserta lomba hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah lomba yang sesuai
dengan bidang tugas yang menjadi tanggungjawabnya (bila mengirimkan lebih dari
satu naskah lomba dinyatakan gugur).
4. Surat pernyataan penulis, bahwa naskah lomba tersebut asli hasil karya
sendiri, bukan jiplakan, dan belum pernah dinilai pada lomba sejenis, baik di
dalam maupun di luar Departemen Pendidikan Nasional yang diketahui oleh kepala
sekolah.
5. Jumlah halaman sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) halaman kertas
berukuran A4, tidak termasuk bagian awal dan lampiran-lampiran. 2
6. Diketik 2 (dua) spasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa
Inggris yang baik dan benar.
7. Naskah lomba dijilid dan diberi sampul dengan ketentuan:
a. Warna merah untuk guru SD;
b. Warna biru untuk guru SMP;
c. Warna abu-abu muda untuk guru SMA;
F. KERANGKA ISI
1. Bagian awal
1) Halaman judul
a) Judul singkat, jelas, relevan dengan isi tulisan, dan diketik dengan huruf
kapital.
b) Nama penulis.
c) Kedudukan guru yang menyatakan keberadaan guru pada satuan pendidikan
SD/SMP/SMA dan mata pelajaran yang menjadi bidang tugasnya.
d) Tanggal penulisan.
2) Halaman pengesahan/persetuj uan kepala sekolah
Lembaran tersebut menyatakan pengesahan atau persetujuan kepala sekolah dengan
bukti tanda tangan, nama, NIP/NIGB/NIY (kalau ada) dan stempel sekolah yang
bersangkutan.
3) Kata Pengantar
4) Daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran bila ada
5) Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris antara 200-300
kata
2. Bagian inti pembahasan
1) Pendahuluan
Pendahuluan berisi atau mengungkapkan antara lain hal-hal sebagai berikut :
a) Latar belakang
o Menggambarkan bahwa topik atau fokus permasalahan menarik dan relevan dengan
upaya peningkatan mutu pembelajaran
o Menunjukkan bahwa topik atau fokus permasalahan tersebut bersifat spesifik,
asli, dan belum pernah disajikan secara tertulis sebagai karya lomba
keberhasilan pembelajaran. 3
b) Rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, kajian, atau evaluasi yang
menggambarkan ruang lingkup atau pembatasan kegiatan pembelajaran yang
dilakukan sesuai dengan topik atau fokus permasalahan.
c) Tujuan dan manfaat penelitian, kajian, atau evaluasi yang dilakukan.
Rumuskan secara rinci tujuan dan manfaat kegiatan penelitian, kajian, atau
evaluasi yang dilakukan.
d) Definisi konsep, definisi operasional, dan/atau kajian teoritis yang relevan.
2) Metodologi penelitian atau prosedur pembelajaran.
a) Metode penelitian atau prosedur pembelajaran. Jelaskan secara rinci prosedur
penelitian, penelitian tindakan kelas, kajian, atau evaluasi
pembelajaran/ bimbingan yang dilakukan.
b) Subjek penelitian, kajian, atau evaluasi. Jelaskan secara rinci pada kelas
berapa kegiatan pembelajaran/ bimbingan dilakukan, berapa banyak dan bagaimana
karakteristik siswanya.
c) Teknik pengumpulan data. Jelaskan teknik pengumpulan data, seperti dengan
tes, observasi, data sekunder, dan sebagainya.
d) Validasi instrumen penelitian, kajian, atau evaluasi. Jelaskan bagaimana
instrumen itu divalidasi, seperti uji validitas, validasi sejawat, atau
menggunakan instrumen yang terstandar.
e) Teknik analisis data. Jelaskan teknik analisis data, baik kuantitatif maupun
kualitatif.
3) Laporan hasil penelitian atau kegiatan pembelajaran
a) Hasil penelitian atau kegiatan pembelajaran.
b) Analisis hasil penelitian atau kegiatan pembelajaran.
4) Kesimpulan dan saran-saran
a) Kesimpulan utama yang dapat diambil dari kegiatan pembelajaran.
b) Saran-saran yang ditujukan baik kepada teman sejawat, pengelola pendidikan
atau berbagai pihak lain yang relevan.
4 3. Bagian Akhir
1) Daftar pustaka
2) Lampiran data-data yang diperlukan untuk menunjang kebenaran laporan
kegiatan, misalnya: data hasil belajar, instrumen pengukuran yang digunakan
program pembelajaran dan lain-lain.
3) Setiap naskah lomba supaya dilampiri biodata peserta yang disahkan oleh
kepala sekolah (contoh terlampir).
G. PERSYARATAN PESERTA
1. Peserta lomba adalah,
a. Guru Sekolah Dasar (SD) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA,
Matematika, dan IPS.
b. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika, dan
IPS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP).
c. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia,
Biologi, Matematika, Geografi, Sejarah, Ekonomi/Akuntansi dan
Sosiologi/Antropolo gi pada Sekolah Menengah Atas (SMA).
2. Masih aktif mengajar pada sekolah negeri atau sekolah swasta di bawah
pembinaan Departemen Pendidikan Nasional, baik sebagai guru PNS maupun guru
bukan PNS.
3. Mempunyai masa kerja sebagai guru sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun
dibuktikan dengan SK pengangkatan/ penugasan pertama sebagai guru.
4. Bagi yang pernah 2 (dua) kali menjadi pemenang Lomba Keberhasilan Guru dalam
Pembelajaran Tingkat Nasional baik Pemenang I, Pemenang II, maupun Pemenang III
dapat mengikuti kembali lomba ini setelah 5 (lima) tahun dihitung dari
kemenangannya yang terakhir.
H. WAKTU PELAKSANAAN
1. Penerimaan naskah lomba dimulai sejak tanggal 1 April 2009 dan paling lambat
tanggal 31 Agustus 2009 (cap pos).
2. Naskah lomba asli sebanyak 1 (satu) eksemplar dikirim kepada:
“Panitia Lomba Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran Tingkat Nasional”
Direktorat Profesi Pendidik
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Departemen Pendidikan Nasional
Gedung D Lantai 14 Jl. Jenderal Sudirman Pintu I Senayan, Jakarta Pusat
Telp/Fax. (021) 57974123
I. PENGHARGAAN BAGI PEMENANG
Bagi pemenang lomba disediakan hadiah berupa uang dengan total nilai sebesar
Rp. 605.000.000, – (Enam ratus lima juta rupiah) dan piagam dari Menteri
Pendidikan Nasional.
J. KETENTUAN LAIN
1. Pada pojok kiri atas sampul pengiriman ditulis “GURU SEBAGAI PEMERSATU
BANGSA”.
2. Finalis Lomba akan dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti seleksi penentuan
pemenang lomba tingkat nasional pada bulan November 2009. Kegiatan ini
merupakan salah satu kegiatan dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional tahun
2009.
3. Naskah yang masuk menjadi milik Panitia dan hak penerbitan naskah berada
pada Direktorat Profesi Pendidik, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional.
Sekolah berwawasan pasar
Sumber : gatothp2000.wordpress.com
dalam diskusi siang hari dgn p bag, bu dewi, maupun kristalisasi dari hal2 yg pernah kita kembangkan, dimasa lalu, dan meniru cisco program,terbersit pembinaan insan ttg mencari dan mendidik mereka yg mengembangkan menjadi entreupreuner atau istilah kami juragan. di indonesia sdh banyak program ttg ukm, juragan muda, hipmi, dll yg terkait dgn penciptaan entreupreuner baru….dengan memberikan sertifikat entreupreuner dan bbrp kompetensi yg di akui sbg sks dr akademi/politek misalnya..ini perlu sinergi yg terus menerus…
mungkin sistem training maupun pendidikan khusus utk hal ini perlu di sinergikan dgn ukuran yg jelas..dan peserta nya jelas.
salah satu dasar pemikiran, atau hukum nya al,
•Kebutuhan akan lapangan kerja
•Penyiapan pembuka lapangan kerja
•Tidak ada kaitannya dgn gelar akademi dari lebaga pendidikan
•Seamolec yg mengembangkan bersama masarakat ukm/industri besar..?
•Contoh cisco academy program, maupun program sejenis..
•produk2 /hasil akhir Yg di kembangkan oleh industri..
serta tolok ukur ke berhasilan al.:
•Peningkatan dari omset
•Peningkatan pegawai
•Peningkatan cabang
mungkin salah satu masukan persaratan..
•Minimal sltp
•Mempunyai toko/shop/produk yg bisa di ukur dgn omst dll
•Terkait dgn ijin memperkerjakan anak2 di atas 15 thn, aturan ILO
•Memanfaatkan tjj, internet, intranet, satelit, pos dll sbg laporan
•Membuat laporan setiap bulan?/3 bulan?/ atau setiap semester, sebagai sharing bhn ajar, pengalaman antar peserta
sertifikasi yg di keluarkan oleh seamolec atau kerma dgn innotech atau institusi lainnya yg sejenis ,
•Sertifikasi dgn 6/9 level.
•Berbasis profisiensi, pengembangan antara kompetensi dan hasil/produkk akhir yg terkait dgn kemampuan seseorang
•Di buat kesepakatan awal pada level berapa dan akan mencapai level berapa thd suatu waktu
kapan mulai dan siapa pelaku2 nya..
•Perkembangan sd saat ini dr ranngkuman penelitian oleh p4tk cianjur dgn bbrp smk yg sdh jalan dgn kelas wirausahanya, atau uni yg mengembangkan kelas wirausahanya, atau lembaga2 lain yg juga mengembangkan kelas wirausaha,
•Membentuk kelas baru pada sistem yg ada
•Membuat kelas baru dari pnfi
•Mengembangkan sistem yg sdh ada
rencana serta pemikiran target,
•Target peserta
•Target kota/kabupaten
•Target negara
•Target level
•Target networking antar lulusan atau peserta..
•Terget pertemuan darat setiap tahun..?
bidang2 yg mungkin perlu di kembangkan
•Penjualan-retail
•perikanan’
•Peternakan
•Pariwisata
•Boga
•Toko2 khusus
•Mlm
•maupun bidang2 yg memang di perlukan dan di kembangkan oleh industri yg sdh ada
bentuk usaha yg ada dan mungkin perlu di adakan…
sistem mini waralaba, bagi mereka yg memerlukan modal kecil,
atau wara laba yg sdh berjalan seperti saat ini…atau
siapapun juga yg mau mengembangkan usahanya bersinergi dgn seamolec dan juga dgn industri atau perbankan atau pemerintah daerah maupun siapapun dgn tujuan menciptakan lapangan kerja baru…
pendampingan dan masa berlakunya sertifikasi entreupreuner
perlu di siapkan pendampingan terus menerus, serta mekanisme pembiayaan, iuran atau apapun, dan sertifikasi yg berlaku terbatas..mis 3 thn utk setiap level, dan di umumlkan secara terbuka..kke publik..
saran2..? dari setiap bagian akan menyempurnakan konsep program seamolec-entreupreuner – academy
kami tunggu ya..
terimakasih
info seminar
SEMINAR NASIONAL DAN LAUNCHING KLUB GURU INDONESIA WILAYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Klub Guru Indonesia (KGI) menyelenggarakan “Seminar Nasional” bekerja sama dengan HARRISMA Computer, Majalah INFO KOMPUTER, Penerbit ANDI OFFSET, PT TELKOM, SEAMOLEC, dan JIS DIY. Seminar sehari dalam rangka Launching Klub Guru Indonesia (KGI) cabang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta juga didukung oleh Persatuan Guru Republik Indonesaia (PGRI) Propinsi DI Yogyakarta. Acara tersebut akan diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 14 Juni 2009, mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB bertempat di Gedung KPLT Fakultas Teknik UNY, dengan tema : “Tantangan Pendidikan Masa Depan dan Kiat menjadi Guru Profesional”.
Pembicara dalam seminar ini adalah : Dr. Baedhowi, M.Si. (Dirjen. PMPTK), Dr Wardiman Djojonegoro (Mantan Mendiknas), Dr Indra Jati Sidi (Ketua Pembina KGI Pusat), Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto (Direktur SEAMOLEC), Dr Rochmad Wahab, M.Pd, M.A. (Rektor UNY), dan Prof. Suwarsih Madya, Ph.D (Kadinas DIKPORA DIY).
Pendaftaran peserta dibuka mulai 1 Juni 2009 sampai dengan 13 Juni 2009, bertempat di Lantai Dasar Gedung Sekretariat KGI Yogyakarta, Jln Affandi No 22A Yogyakarta, Telp. (0274) 6695919 atau juga dapat menghubungi Panitia perwakilan dari masing-masing kabupaten/kotamadya. Kabupaten Sleman, Parjanto (081578898279), Kotamadya Yogyakarta, Edy Thomas Suharta (085228391970), Kabupaten Bantul, Arifah (0274 6558841), Kabupaten Kulonprogo, Agus Romelan (08157906793), dan Kabupaten Gunungkidul, Kardono (081328066240).
an Sie HUMAS
Jumiyanto, S.Pd.,C.Eng
Contact : info@klubguru-jogja.org
Info Kegiatan SEAMOLEC di Filiphina
From: Mangasa Aritonang
Date: Wed, 13 May 2009 17:06:07 +0800
To:
Subject: Info School Partnership dari Davao City, Philippines
Pak Gatot yth.,
Dari Davao City, Philippines, kami laporkan informasi sebagai berikut:
Jumlah rombongan yang berangkat adalah 24 orang, dengan diawali pre-departure training di SEAMOLEC pada hari Minggu tanggal 10 Mei 2009.
Rombongan tiba di Davao City pada hari Senin, 11 Mei 209 jam 12.15, dan dijemput oleh team dari KJRI Davao City, langsung courtesy call ke Bapak Lalu, Konjen RI di Davao City, dan kemudian dibawa ke House of Indonesia tempat kami tinggal.
Hari Selasa, 12 Mei 2009, workshop kepala sekolah Indonesia dengan Kepala sekolah Philipines di sekitar Mindanao, bertempat di House of Indonesia. Workshop ini dibuka oleh Bapak Konjen, dan dihadiri oleh Regional Director of DepEd dan TESDA. Presentasi saya awali dengan perkenalan profile SEAMOLEC serta program kemitraan, dilanjutkan oleh Andri dengan presentasi SEA EduNet. Kemudian Sekolah Indonesia presentasi profil sekolah, begitu juga sekolah Philippines.
Hari Rabu, 13 Mei, kami mencocokkan kemitraan, dan membahas draft MoU. Akan dilanjutkan besok Kamis dengan tanda tangan MoU.
Pada saat saya presentasi program SEAMOLEC, ada beberapa hal yang menarik:
1. KJRI Davao City dan Sekolah Indonesia Davao berminat untuk gabung dan dipasangkan fasilitas SEA EduNet, dan ini agar segera kita tindak lanjuti. Satu hal yang kami banggakan adalah KJRI mendukung penuh programkemitraan ini, bukan hanya fasilitas akomodasi dan konsumsi,tetapi juga program yang kita laksanakan. Bapak Konjen juga tetap hadir dan mendorong memberi semangat kepada pihak Philippina untuk mau bermitra dengan Indonesia.
2. Banyak orang Philippines yang tertarik untuk mengikuti training Mobile Game Technology dan juga training Web-Based Course Development, sebagai tindak lanjut dari kemitraan ini.
3. Sepertinya banyak Polytechnic yang berminat jadi mitra SEAMOLEC, dan mau dipasangkan fasilitas SEA EduNet.
4. Ada permintaan dari Polytecnic disini agar mahasiswanya jurusan TI magang di SEAMOLEC.
5. Ada juga Polytech yang minta dimitrakan dengan Polytech di Bali untuk program Hospitality. Mungkin Poli Bali tepat untuk mereka.
6. Ada juga yang minta dicarikan mitra di daerah Manado dan Gorontalo untuk Hospitality, karena jarak yang dekat.
Demikian info sementara dari Davao City. Mudah-mudahan besok banyak yang tanda tangan MoU, dan segera ditindaklanjuti dengan training untuk persiapan collaborative e-learning.
Salam,
M. Aritonang
Hasil Belajar di Australia
Dari : Dhitta Puti Sarasvati
http://www.1000guru .net/htmls/ articles/ 1KG-QuoVadisPend Ind.html
Artikel berjudul “What I’ve learned from Australia” tulisan Sdri. Zubeth sangat menarik untuk dibaca. Saya dapat menggambarkan artikel tersebut (dengan kata-kata saya sendiri) sebagai motivated-critical. Kenapa dikatakan motivated, karena tujuan utama dari artikel ini secara global (mudah2an saya gak salah mengerti) adalah mengajak dan mengajukan suatu alternatif untuk perubahan terhadap pola pendidikan Indonesia melalui pemaparan sebuah konsep pendidikan dan pengajaran ala barat yang penulis pelajari di negeri nun jauh disana yang bernama Australia. Jadi dengan demikian sangat positif dan motivated.
Selanjutnya kenapa artikel itu saya kategorikan critical, karena alasannya menurut saya sebagai berikut:
Sistem pendidikan dalam sebuah negara itu merupakan satu subsistem yang eksistensi dan keberlangsungannya sangat ditopang atau tergantung dari sub sistem lain di masyarakat yang tidak kalah pentingnya, yaitu subsistem politik dan subsistem ekonomi (Fend, 1999). Ketiga subsistem tersebut membentuk sebuah sistem segitiga yang setiap sudutnya menentukan eksistensi sudut yang lain.
Jadi kalau kita bicara masalah kualitas pendidikan suatu negara, sebaiknya kita menerapkan pola analisa yang multidimensional dengan memperhatikan berbagai faktor yang terdapat dalam ketiga subsistem tersebut. Dengan demikian apabila penulis hanya menjadikan filosofis pendidikan barat misalnya, sebagai hal yang mendasari keberhasilan konsep pendidikan barat sehingga output pendidikannya superior maka menurut saya itu patut dikritisi. Kenapa demikian? mari kita lihat fakta berikut:
Apabila dikotomi filosofi pendidikan Barat-Timur yang menjadi faktor penentu superioritas pendidikan barat dalam mencetak manusia cerdas dan pintar, justru hasil dari Programme for International Student Assessment (PISA-Study) 2003 dan 2006 menunjukan hal yang kurang sesuai. Berdasarkan studi tersebut, lulusan sekolah terbaik di dunia itu justru berada di benua timur, yaitu Korea Selatan. Dengan skor rata-rata 550, anak sekolah di Korea ini berhasil mengungguli Finlandia (dengan skor rata-rata 548) yang merupakan negara terunggul sistem pendidikannya diantara negara-negara Eropa atau barat. Demikian pula dengan Jepang; berdasarkan hasil studi ini, negri sakura ini yang juga di wilayah bagian timur juga berhasil mengungguli Australia sekali pun dalam masalah mencetak manusia berkualitas.
Bukti lain adalah kemajuan negara lain di asia seperti Cina, dan negara tetanggga kita Malaysia. Konsep pendidikan di negara2 tersebut dalam waktu singkat berhasil meningkat secara melejit. Dengan SDM dan SDA yang ada Cina dalam tempo yang super cepat mampu merajai perekonomian dunia. Untuk mencapai hal tersebut tentu saja sistem pendidikan Cina dengan konsep pendidikan mereka yang berfilosofiskan ketimuran banyak berperan.
Bukti lain lagi, kalau kita mau romantisme historis, pendidikan di negara kita pada dekade 60 -80an. Pada masa tersebut pendidikan kita pernah sedemikian baiknya dalam mencetak manusia-manusia pintar, sehingga pada waktu tersebut banyak negara tetangga yang mengirimkan mahasiswanya untuk menimba ilmu di negara kita tercinta ini. Contoh lainnya lagi adalah Rusia; dengan segala konsep pendidikanya yang serba sentralistik dan serba diatur oleh sistem pemerintahan komunis yang tentunya anti dari nilai2 pendidikan demokratis ala barat, ternyata negara tersebut berhasil menjadikan negaranya sebagai negara adidaya tandingan USA sampai sekarang. Kepala-kepala jenius pun telah banyak dilahirkan di negara tersebut.
So, berdasarkan fakta2 tersebut, dikotomi Barat-Timur dalam hal konsep dan filosofi pendidikan perlu dianalisa ulang.
Poin berikutnya yang perlu dikritisi adalah masalah penjabaran dari filosofi didaktik dalam proses pendidikan. Dalam artikelnya penulis mengatakan bahwa filosofi guru-murid yang berimplikasi pada proses pembelajaran frontal (menurut pengertian saya) adalah merupakan filosofi pendidikan timur. Sejauh yang saya pelajari, filosofi didaktik semacam ini bukan hasil cetakan suatu mazhab, barat atau timur, tetapi kita disini lebih bicara dalam tataran konservatif vs. modern. Jadi di negara-negara barat pun konsep frontal guru-murid ini pernah dan/atau sampai sekarang masih diterapkan oleh sebagian pendidik (berdasarkan pengamatan empiris saya di beberapa sekolah di Jerman). Sementara konsep yang digambarkan penulis sebagai konsep I message di Ausi itu merupakan konsep hasil reformasi dari konsep konservatif sebelumnya. Jadi sekali lagi dalam hal ini tidak ada dikotomi Barat-Timur.
Kemudian dalam memahami konsep I message, memang sudah merupakan karakternya bahwa murid memiliki otonomi atau sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Akan tetapi otonomi itupun menurut saya terbatas. Kurang benar kiranya apabila murid berdasarkan konsep ini memiliki otonomi full dalam menentukan sendiri apa-apa yang mau dipelajari atau dengan kata lain menentukan semua bahan ajar, karena dengan demikian, tujuan dari dan isi dari kurikulum yang oleh si guru dijadikan sebagai pedoman penyelengaraan proses belajar-mengajar tidaklah berarti lagi. Sejauh yang saya pelajari, dalam konsep ini memang murid dilibatkan dalam proses perencanaan belajar-mengajar, dimana sang murid diminta pendapatnya dalam menentukan tema yang akan dijadikan bahan ajar. Tapi hal itu terjadi setelah sang guru menetapkan kerangka dasarnya yang tidak boleh dilabrak oleh siswa. Tujuan dari hal tersebut tiada lain untuk mengakomodasi minat kebanyakan murid terhadap sebuah tema misalnya, sehingga pembelajaran tidak boring.
Menanggapi tentang perilaku siswa-siswa di barat yang lebih berani dalam adu argumen atau lebih spontan dalam mengajukan pertanyaan kepada sang pengajar, menurut saya memang ini adalah hal yang positif, tapi tidak sepenuhnya. Hal tersebut harus kita lihat secara kontekstual. Misalnya dalam konteks budaya pola hubungan interpersonal dalam masyarakat. Sebagai contoh saya suka memperhatikan orang-orang dari negara-negara non barat pada saat seminar, seperti Jepang, China, Korea dan juga Indonesia. Kebanyakan dari mereka memang tidak begitu vokal dalam hal berdebat, tapi banyak dari mereka yang sangat berkualitas pemikirannya ketika ditanya pendapatnya. Lain halnya dengan sebagian orang dari barat, atau kebanyakan orang dari negara-negara Afrika, atau Rusia misalnya (maaf bukan rasis, ini hanya hasil pengamatan pribadi saja) banyak dari mereka yang bersitegang dan spontan mempertahankan pendapatnya demi ego mereka, walaupun isinya seringkali ngawur. So hal seperti ini sekali lagi sifanya sangat kontekstual. Kemampuan berfikir liberal yang direpresentasikan dengan spontanitas bertanya di forum belum merupakan indikator dari kualitas sebuah konsep pendidikan.
Hal lain, adalah merupakan sebuah ekses dari pola pemikiran liberal di barat bahwa banyak sekali sekolah-sekolah di negara barat (contohnya yang saya alami di Jerman) menghadapi suatu masalah kedisiplinan serius dengan para siswanya. Dapat kita bayangkan apabila ada murid yang memukul-mukul meja pada saat guru menerangkan, atau bahkan murid yang mendorong guru perempuannya karena dia diperingatkan untuk tidak telat masuk. Ini benar-benar terjadi di depan mata kepala saya.
Sikap-sikap lain yang lebih parah menurut kaca mata saya sebagai orang timur adalah sikap mereka terahadap orang tua sebagai bentukan dari pola pendidikan mereka. Kita yang pernah hidup di negara barat pasti tahu bagaimana liberalnya para anak barat bersikap terhadap orang tuanya. Buat mereka orang tua adalah beban hidup, sehingga panti jompolah tempat yang paling tepat buat para orang tua mereka menghabiskan masa tuanya. Pertanyaannya: sisi afeksi beginikah yang kita inginkan sebagai hasil dari sebuah konsep dan filosofi pendidikan (di barat)??
Kondisi semacam ini menurut saya terjadi akibat terlalu disuntikannya atau diagungkannya nilai-nilai liberal dan demokrasi ala barat kepada system pendidikan dasar mereka. Sebagai akibatnya guru sebagai pengajar dan pendidik jadi “ditelanjangi” otoritasnya dalam membentuk individu yang punya rasa hormat terhadap guru dan orang tua. Alhamdulillah fenomena sosial semacam ini masih merupakan hal yang sangat tabu di kultur kita.
Dengan pemaparan singkat diatas saya ingin menyampaikan bahwa tidak ada satu pun konsep pendidikan di dunia ini yang benar-benar sempurna dan berlaku general dalam mencetak manusia berkualitas, walaupun itu konsep filosofi pendidikan barat sekali pun. Justru sebaliknya dalam kasus Indonesia; dunia pendidikan kita menjadi amburadul sebagian akibat dari kebijakan publik dalam bidang pendidikan yang kurang cerdas; yaitu seringnya para politisi kita di Depdiknas dengan gampangnya mengadopsi kurikulum dan konsep pendidikan dari barat tanpa adanya analisa yang komprehensif terhadap semua potensi, situasi dan kondisi bangsa dan budaya sendiri. Di bidang pendidikan saja, sejak era pelita satu, jaman Orba sampai sekarang sudah terjadi lebih dari 10 kali konsep kurikulum kita diganti. Yang terahir adalah KBK dan KTSP yang pengembangannya didanai oleh bantuan utang Australia. Walhasil pendidikan tambah semrawut gak puguh tujuan.
Sebagai penutup, kalau kita bertanya mau dibawa kemana konsep pendidikan kita? Jawabannya menurut saya kita harus merujuk konsep atau gerakan yang dalam bahasa sundanya “Indigenization” alias to transform things to fit the local culture (Wikipedia). Jadi kita harus mengadopsi konsep pendidikan modern yang “meng-Indonesia” .
Inilah trend yang sedang terjadi di negara2 yang menggeliat maju: Cina, Korea, Malaysia, Jepang, Singapura, India dll. So istilah kebarat-baratan dalam pengembangan pendidikan tidaklah harus dipertahankan… ..
Dikirim oleh
Dadang Kurnia
Institut für Berufspädagogik
Fakultät Erziehungswissensch aften
TU Dresden – Germany
Lima Hal Positif Posisi Orang Tua
Kiriman
Putri Amalia Siregar
1. Boleh saja berbeda
semua anak itu unik, mereka mempunyai bakat2, tantangan dan kebutuhan2 yang
berbeda, tugas kita sebagai orang tua adalah mengenali semua itu dan
merawatnya, anak kita mungkin pintar pada bidang tertentu dan lebih lamban
pada bidang lainnya, atatu mungkin dia tidak menunjukkan adanya kemajuan
sampai dia melompat jauh ke depan pada suatu hari. Anak-anak tumbuh dengan
kecepatan tersendiri dan kita perlu mendorongnya tanpa terus menerus
mengukurnya atau membandingkannya dengan anak yang lain.
2. Boleh saja berbuat salah
Setiap orang pasti pernah sesekali tergelincir, itu hal yang normal dan
wajar, jika anda bereaksi berlebihan, anak akan merasa adasesuatu yang tidak
beres dalam dirinya. Cara terbaik untuk mengajar anak bahwa berbuat salah
itu boleh ataau bisa saja terjadi adalah dengan mengakui kesalahan-kesalahan
kita sendiri.
3.Boleh saja merasakan emosi-emosi negatif
Rasa marah, sedih, takut, menderita frustasi kecewa, cemas, malu, cemburu,
sakit hati, atau tidk aman bukan hanya alami dan normal, tapi merupakan
bagian penting dari pertumbuhan, anak-anak pperlu mengungkapkan rangkaian
emosinya, sehingga tidak dikuasai emosinya.
4. Boleh saja menginginkan lebih
sering anak mendapatkan pesan bahwamereka salah, mementingkan diri sendiri,
atau manja jika meminta lebih atau karena marah jika merekatidak mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Orang tu yang positif berarti mengajari
anak-anaknyacara memeinta yang mereka inginkan dengan tetap menghormati
oarng lain.
5. Boleh saja anak berkata tidak sejauh ayah ibu tetap menjadi Bosnya
Mendapatkan izin untuk berkata tidak benar-benar memberi kekuatan kepada
anak, banyak orang tua yang cemas; memberikan anak terlalu banyak kekuatan
akan memanjakannya, mengizikan anak berkata tidak membuka pintu kepadanya
untuk mengekspresikan perasaan2nya, jika anak tidak mempunyai rasa identitas
diri yang kuat, anak akan mudah menjadi korban penipuan atau tindakan
kekerasan, bahkan mungkin anak akan tertarik pada hubungan kekerasan karena
merasa dirinya tidak berharga.
(taken fr John Gray -Positive Parenting Skill for Creating Cooperation,
Confidence and Compassion)
–
RAHMADSYAH
Practitioner NLP I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
Kemitraan Sekolah dengan Australia dan Korea
Sumber : Klub Guru Indonesia
Hi all,
SEAMOLEC bekerja sama dengan KBRI untuk Australia di Canberra akan
mengadakan program kemitraan sekolah Indonesia dengan sekolah di Australia.
Terlampir informasi dan jadwal tentatifnya. Apabila tertarik, mohon segera
kirim profil sekolah sesuai format terlampir.
Bu Ernest di Dinas Pendidikan Jawa Tengah dan bu Anas di Dinas Pendidikan
Jawa Timur, mohon bantuannya menyebarkan informasi ini ke sekolah.
Kesempatan ini terbuka untuk SD, SMP, SMA dan SMK (2 sekolah saja untuk SMK,
sesuai informasi dari KBRI di Australia).
Untuk Korea, bentuk kegiatannya kurang lebih sama, dan dijadwalkan bulan
July atau Agustus 2009.
Salam,
*Mangasa Aritonang*
Training Manager
SEAMOLEC
Info initial preparation seaedunet synergy with Korea
Sumber : KGI (Klub Guru Indonesia)
Dear Sir/Madam,
Thank you very much for your reply. Yes, it is true that SEAMOLEC and KFTA
will be mediating Indonesian and Korean schools for the partnership. It
would be better if we start at high school level as students at this level
are more competent for collaboration and communication. I wonder if you
could also arrange for vocational schools partnership, if available.
We have some list of schools ready for the partnership. Mostly are from big
cities like Jakarta, Surabaya, Semarang and Jogjakarta, and other areas as
well. To match the participating schools, we need to collect the profiles of
school, and let them communicate by email first. All email communication
should be cc-ed to us.
The partnership is not necessarily focusing on ICT education, but could also
be for language, culture, values or other subject matters, like Mathematics
or Science. ICT is only the tools for communication.
After we get the schools matched, then we will take the Indonesian
principals to come and visit the Korean principals. We can conduct a meeting
there to discuss the forms of collaboration and the draft of MoU for them to
sign. Indonesian principals will cover their own transportation,
accommodation and meals. It would be great if you could recommend an
affordable place for us to stay in.
I will also try to request Indonesian embassy in Seoul to assist us in this
program. When do you think we could start this program? July or August? I’ll
send you the list of Indonesian schools as soon as possible.
Best regards,
Mangasa Aritonang
SEAMOLEC
Game Edukasi Mobile
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (mobile) membawa kehidupan masyarakat Indonesia menjadi setingkat lebih maju. Jarak antara dua saudara di dua kota berbeda bukan lagi jauh seperti kehidupan sebelumnya. Berita gembira ataupun duka tidak lagi berganti waktu untuk dapat didengar atau diceritakan. Perintah rapat, seminar, workshop, symposium tidak lagi menunggu ketik edit cetak posting seperti sebelumnya, karena tinggal ketik send jadi. Inilah fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mulai dirasakan oleh kalangan masyarakat Indonesia.
Kemajuan tersebut memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kemajuan teknologi lainnya, karena tidak memandang pejabat, teknokrat, akademisi, pegawai negeri, pegawai swasta, mahasiswa, pelajar, petani, nelayan, sopir, penjual gorengan bahkan sampai penjual angkringan (nasi kucing = Yogyakarta). Gambaran nyata : 1). Penjual warung angkringan di pojok Kampus UGM, hanya ketik send ketika nasi kucing mendekati habis sementara waktu masih siang dan selang beberapa menit datang seseorang mengantarkan pesanan. 2). Seorang siswa SD (Sekolah Dasar) hanya ketik send ketika hujan deras tiba-tiba mengguyur dan selang beberapa menit sang ayah datang menjemput.
Berdasarkan kenyataan di atas, kita harus tanggap untuk ikut serta memanfaatkan dan mengoptimalkan kemajuan tersebut dalam kaitannya dengan dunia pendidikan di Indonesia. Informasi SEAMOLEC melalui JENI (http://jeni.seamolec.org) yang salah satu programnya adalah mengembangkan kemampuan membuat game pendidikan via mobile, perlu ditangani secara serius dan berkesinambungan. Di samping langkah ini merupakan jemput bola terhadap kemajuan TIK akan tetapi juga dengan langkah ini dapat membuka lapangan kerja mandiri karena mudah dan dapat dikembangkan secara manual sesuai dengan keinginan pengguna (siswa/pelajar, mahasiswa dan pemerhati dunia pendidikan).
Oleh karena itu kita perlu mendukung dan berpartisipasi terhadap program SEAMOLEC tersebut dalam rangka mengembangkan media pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi mobile game untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Jabat Erat